Gunung Sinabung




Gunung Sinabung adalah sebuah gunung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung bersama Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter. Gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600. Koordinat puncak gunung Sinabung adalah 3 derajat 10 menit LU, 98 derajat 23 menit BT.

Aktifitas vulkanik Gunung Sinabung sepekan ini tak bisa dilepas dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat Tanah Karo. Khusunya di Desa Bekerah, cerita yang menghubungkan aktivitas Gunung SInabung belakangan ini dengan legenda Syeh Abdurrahman.

Lalu, siapa sebenarnya Syeh Abdurrahman?

Syeh Abdurrahman adalah seorang ulama yang kuat dugaan berasal dari Barus. Ulama kharismatik itu hidup antara akhir tahun 1600 hingga awal 1700-an. Beliau menggunakan deretan pegunungan Bukit Barisan sebagai pintu lintasan syiarnya. Warga Bekerah percaya bahwa Sinabung pernah dijadikan tempat persinggahan Syeh Abdurrahman dan pengikutnya dalam berdakwah di pantai Barat Sumatera.

Menurut Ketua Yayasan Kempu Geriten, Oki Teger Mahatidana Bangun, mungkin sekali kalau Tanah Karo menjadi tempat persinggahan mufti-mufti di tanah Andalas.

Pasalnya, Barus yang menjadi pintu masuk agama Islam dikenal memiliki banyak ulama kharismatik, salah satunya adalah Hamzah Fansuri.

Tanah Karo sendiri, menurut dia, adalah pintu lintasan pedagang dan ulama dari Barus menuju Kutacane, Alas, Gayo bahkan Meulaboh, Aceh.

Ajaran Islam sendiri, pun dapat berakulturasi dengan budaya setempat. Misalnya mengucapkan Bismillah dalam memulai mantra-mantra doa.

Akulturasi Islam, Hindu dan kebudayaan lokal kental di Tanah Karo terus berlangsung hingga invasi yang lakukan Kesultanan Aceh abad 17.

Kisah Syeh Abdurrahman yang konon kabarnya sempat bermukim di lembah Gunung Sinabung dikait-kaitkan dengan kemistikan puncak tertinggi di Tanah Karo itu.

Konon, sejumlah pantangan berlaku di daerah tersebut. Para pendaki yang ingin naik ke Gunung Sinabung, oleh warga setempat diperingatkan untuk tidak mengucapkan kata-kata kotor. Selama berada di daerah itu.

Selain itu, bagi warga yang ingin naik ke gunung itu dilarang memakan daging anjing dan daging babi. Dua binatang yang masuk daftar haram dalam ajaran Islam.

Aktifitas Gunung Sinabung yang hingga kini selalu membuat kaget warga dan Indonesia itu hari ini pun dikait-kaitkan dengan adanya pendatang yang melanggar larangan yang sudah diyakini sejak turun temurun oleh warga yang berdiam di sekitar Gunung Sinabung.

Letusan Sinabung yang tak bisa diprediksi itu juga diyakini sebagai pesan dari penjaga alam agar memperhatikan ekosistem yang mulai terabaikan.
ada lagi cerita dari warga mengenai hubungan dengan meletusnya gunung sinabung.
Warga Yakin Meletus karena tak Diruwat
Secara ilmiah, letusan Gunung Sinabung diketahui merupakan peristiwa alam terkait aktivitas gunung berapi.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr Surono, berulang kali menegaskan, peristiwa itu terkait aktivitas vulkanik gunung api yang sudah bertipe A itu.
Tetapi bagi warga yang bemukim di sana, meletusnya gunung di ketinggian 2.451 m dpl itu tidak terlepas minimnya ritual-ritual adat (ruwatan, red)  dari masyarakat setempat, sebagai penghargaan sebagai ’penghuni’ di kawasan Sinabung.
Sejumlah kejadian yang tidak bisa diterima akal sehat yang terjadi beberapa waktu belakangan ini diyakini sebagai pemberian tanda kemarahan ’penghuni’.
Menurut Ucok Sitepu (52) warga Sukanalu, Kecamatan Naman Teran, tanda-tanda itu antara lain tersesatnya warga sekitar dan sejumlah pendaki gunung. Mereka baru ditemukan dalam pencarian yang melibatkan paranormal.
Selain itu, kegiatan barbekyu (memanggang) binatang tertentu kerap mendatangkan hujan, walau sebelumnya cuaca cukup cerah. Perlakuan tersebut juga tetap berlaku bagi kawasan Danau Lau Kawar yang letaknya tepat di kaki Gunung Sinabung.
Ucok punya pengalaman pribadi tentang kepercayaan itu. Ketika memanggang daging babi dan anjing, di kawasan danau dengan luas sekitar 100 hektar itu, pihaknya kerap mengalami kejadian di luar akal sehat.
“Minimal sudah tujuh kali kegiatan memanggang daging babi dan anjing di kawasan Lau Kawar derai hujan deras disertai petir. Kalau tidak percaya silakan coba sendiri. Kejadian ini juga dirasakan  warga desa lainnya,” ucapnya yakin.
Selain mendatangkan hujan, pemancing yang membawa bekal berupa kedua daging hewan tersebut kerap mendatangkan sial. Hampir seratus persen pemancing yang membawa bekal kedua daging tersebut tidak mendapat hasil seekor ikanpun. Sulit dicerna secara ilmiah, namun menurutnya itulah kejadian di lapangan.
Satu cerita lain, yaitu legenda Lau Kawar yang diceritakan turun-temurun hingga saat ini. Danau itu dulunya perkampungan yang berubah menjadi danau. “Buku cerita Lau Kawar sudah ada. Percaya atau tidak, jika dicermati ada yang menarik dalam sejumlah peristiwa di danau,” ujar Sitepu.
Seingatnya, sedikitnya ada sepuluh orang tenggelam dan tewas di danau itu. Uniknya, seluruhnya laki-laki. Kenyataan ini memunculkan opini di masyarakat kalau kawasan Danau Lau Kawar, dihuni perempuan yang belum memiliki jodoh.
“Itu tergantung kita menyikapinya, boleh percaya boleh tidak. Tetapi itulah kenyataan yang terjadi. Setengah abad lebih sedikit usia saya, jujur belum pernah saya ingat perempuan yang tenggelam. Boleh percaya boleh tidak, dengan semua apa yang saya katakan. Tetapi itulah kenyataan yang ada di sekitar kawasan Gunung Sinabung, khususnya Danau Lau Kawar. Tanya warga sekitar semua tahu itu,” ucapnya yakin.

Mari kita lihat gempa yang terjadi…
            Gunung Sinabung, bangun setelah tidur 400 tahun.
 
Meletusnya Gunung Sinabung di Sumatra sangat mengagetkan. Tidak seperti biasanya sebuh letusan gunung didahului dengan tanda-tanda sebelumnya. Tetapi Sinabung yang masuk kategori B ini tidak mendapatkan perhatian seperti gunungapi tipe A. Aktifitasnya ini telah menunjukkan bahwa dirinya bukanlah gunung mati.
Letusan terakhir dalam catatan sejarah, gunung ini meletus pada tahun 1600. Gunung yang memiliki ketinggian 2,460 m (8,071 ft) ini telah memuntahkan lava serta debu dan pasir volkaniknya ke udara pada tanggal 29 Agustus 2010 tengah malam pukul 00.10.

Mengungsi (AP)
Karena tidak aktif selama ratusan tahun, gunung yang berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut itu digolongkan bertipe B. Contoh lain dari gunung tipe tersebut adalah Gunung Merbabu yang berdampingan dengan Gunung Merapi di Yogyakarta serta Gunung Sibayak di Sumut. Perlu diketahui bahwa di lereng Gunung Sibayak ini terdapat pembangkit panasbumi. Tentusaja mengetahui status gunung ini menjadi sangat vital.
Menurut Pak Surono dari Badan Geologi, gunung tipe B adalah gunung api yang tidak mempunyai karakter meletus secara magmatik. Berdasarkan prioritas ancaman, gunung tipe B tidak dipantau secara rutin. Akan, tetapi bukan berarti gunung di Indonesia dengan tipe B ini tidak diamati. Hanya skala prioritasnya lebih rendah dari gunungapi tipe A
Sejak meletus pada pukul 00.10 tengah malam tadi, lanjut Surono, PVMBG mengubah tipe gunung tersebut menjadi tipe A dengan status awas. Gunung itu selanjutnya akan dipantau setiap hari selama 24 jam.


Laporan perkembangan aktivitas gunungapi Sinabung
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terlihat bahwa gunung ini berkembang sangat cepat.

Agustus 2010


Gunung Sinabung pada 20 Maret 2010 dilihat dari lereng Gunung Sibayak



Gunung Sinabung pada 10 September 2010



Gunung Sinabung dilihat dari Gundaling pada 13 September 2010


Sejak 27 Agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010 dini hari sekitar pukul 00.15 WIB (28 Agustus 2010, 17.15 UTC), gunung Sinabung mengeluarkan lava.
Status gunung ini dinaikkan menjadi "Awas". Dua belas ribu warga disekitarnya dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi. Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari arah barat daya menuju timur laut. Sebagian Kota Medan juga terselimuti abu dari Gunung Sinabung.
Bandar Udara Polonia di Kota Medan dilaporkan tidak mengalami gangguan perjalanan udara.
Satu orang dilaporkan meninggal dunia karena gangguan pernafasan ketika mengungsi dari rumahnya.
September 2010
Pada tanggal 3 September, terjadi 2 letusan. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 04.45 WIB sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Letusan pertama menyemburkan debu vuklkanis setinggi 3 kilometer. Letuasn kedua terjadi bersamaan dengan gempa bumi vulkanis yang dapat terasa hingga 25 kilometer di sekitar gunung ini.
Pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung kembali metelus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif pada tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini terdengar sampai jarak 8 kilometer. Debu vulkanis ini tersembur hingga 5.000 meter di udara.


G Sinabung dan G Sibayak
Aktivitas letusan dan sifat Gunungapi Sinabung tidak pernah tercatat, oleh karena itu tidak diketahui aktivitas letusannya. Karena letusannya tidak pernah tercatat sejak tahun 1600, maka G. Sinabung dikelompokkan dalam tipe B, dan tidak dilakukan pemantauan secara menerus.

Selama ini aktivitas G. Sinabung terpantau hanya berupa manifestasi solfatara dan fumarola di dalam kawah aktif.
Bahkan gunung ini sering didaki dan memiliki pemandangan sangat indah seperti disebelah ini.

Selama dua hari sebelumnya berdasarkan informasi Tim yang berada di lapangan dilaporkan pada tanggal  28 Agustus 2010 pada pukul 08.00 – 16.00 WIB, secara visual terpantau asap putih tipis, ketinggian sekitar 20 meter dengan tekanan lemah hingga sedang. Kemudian pukul 16.00 – 19.00 WIB, G. Sinabung tertutup kabut. Sedangkan pengamatan pukul 19.00 – 24.00 WIB, tidak terpantau adanya asap dari kawah aktif.
Dengan demikian G. Sinabung tidak menunjukkan adanya tanda-tanda peningkatan kegiatan yang menjadikan kita siap-siap.
Namun pada 29 Agustus 2010 tengahmalam pukul 00.08 WIB, terdengar suara gemuruh. Dengan aktivitas tersebut maka G. Sinabung diubah tipenya dari tipe B menjadi tipe A dan statusnya dinyatakan AWAS terhitung pukul 00.10 WIB tanggal 29 Agustus 2010. Hal ini karena pada pukul 00.10 WIB setelah berkoordinasi dengan tim di lapangan, diputuskan dilakukan pengungsian masyarakat yang bermukim dan beraktivitas pada radius 6 km dari kawah aktif.
Sekitar pukul 00.12 WIB, tampak asap letusan dengan ketinggian 1500 meter dari bibir kawah.
Kalau dibandingkan dengan Gunung Kelud yang “gagal” meletus sebelumnya telah menunjukkan tanda-tanda dalam waktu yang cukup lama  bahkan sempat dituliskan dalam beebrapa dongengan :
Dengan adanya aktifitas yang sangat mendadak ini maka Tim Tanggap Darurat telah berada di lapangan (Desa Bekerah Cimacem, Kecamatan Namanteran) sejak 28 Agustus 2010 dan telah berkoordinasi dengan pejabat terkait dari Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Karo
Tim ini akan memasang peralatan pemantauan dan mengikuti perkembangan aktivitas G. Sinabung secara cermat. Dan karena G. Sinabung dalam status AWAS maka akan dilaporkan perkembangan aktivitasnya setiap 6 jam.
Direktorat Volkanologi memberikan himbauan kepada masyarakat sbb:
Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas dalam radius 6 km dari kawah aktif agar diungsikan ke tempat yang aman.
Jika terjadi hujan abu cukup deras, agar masyarakat menggunakan masker penutup hidung dan mulut serta menutup sumber air untuk keperluan minum.
Mengingat G. Sinabung tidak diketahui aktivitas dan sifat letusannya, maka masyarakat agar bersabar mengikuti arahan Pemerintah Daerah (BPBD/Satlak/Satkorlak) dan Pemerintah Daerah agar senantiasa berkoordinasi dengan Tim ahli di lapangan.
Mengingat saat ini di wilayah sekitar G. Sinabung sering turun hujan, agar masyarakat yang bermukim di bantaran sungai yang berhulu di puncak G. Sinabung agar mewaspadai kemungkinan terjadinya bahaya sekunder berupa banjir lahar.

Setiap terjadinya fenomena dan petaka di bumi ini  selalu didahului dengan tanda-tanda alam. Namun tidak mudah membaca dan mengerti tanda-tanda alam ini.
banyak pertanyaan kalau Philipina bisa memperkirakan meletusnya Pinnatubo dengan baik, kenapa ini tidak bisa ? Bukankah kita memiliki gunung api lebih banyak sehingga lebih banyak belajar ?”
Ini mirip mengawasi 100 anak-anak. Tentunya hanya anak yang penyakitan dan sering mengeluh panas saja yang diukur suhu badannya pakai termometer. Kalau ngga ada keluhan ya ngga dipasangi thermometer. Ini fenomena keterbatasan sumberdaya manusia, alat, dan ‘waktu’. Kalau tidak ada keluhan, dalam proses prioritasi, tentunya menjadi tipe B. Anak yang dikenal sakit-sakitan (tipe A) akan mendapat prioritas pengawasan. Nah, ini si anak B kalau tiba-tiba pulang sekolah kehujanan cukup lama, akhirnya juga akan sakit batuk-batuk. Uhuk-uhuk !!
Pinatubo itu menunjukkan gejala cukup lama. Yang perlu dicatat Pinatubo didahului gempa 7.7Magnitude pada bulan juli 1990 dan mulai aktif maret 1991 dimana akhirnya meletus June 1991.

MELIHAT DATA DIATAS DAN BERDASARKAN IMFORMASI YANG DIDAPAT KITA BISA MELIHAT DARI SISI RELIGI DAN TEORI SEBAB MUSABAB MELETUSNYA GUNUNG SINABUNG…

SEMUA TERGANTUNG KITA BAGAIMANA CARA KITA MENILAINYA.
SEMOGA DENGAN KE JADIAN INI

“ SEMAKIN MEMBUAT KITA UNTUK MENJAGA ALAM DAN SELALU BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH SWT “ .

Diposkan oleh berbagi dengan cara ku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar